Manchester City 2-2 Arsenal Bukan Performa Terbaik City dan Arsenal

Manchester City 2-2 Arsenal Bukan Performa Terbaik City dan Arsenal

manchester city versus arsenal

Arsenal tidak menunjukkan permainan yang terstruktur saat berimbang 2-2 dengan Manchester City. Di sisi lain, The Citizens pun tak menunjukkan penampilan maksimal, padahal hasil negatif bisa memupus kans main di Liga Champions musim depan.

Dalam pertandingan yang dihelat di Stadion Etihad, Minggu (8/5/2016), gol City dicetak oleh Sergio Aguero pada menit ke-8 serta Kevin De Bruyne pada menit ke-51. Sementara itu, gol Arsenal dicetak oleh Olivier Giroud pada menit ke-10 serta Alexis Sanchez pada menit ke-68.Manajer Manchester City Manuel Pellegrini menurunkan skuat terbaiknya, termasuk De Bruyne yang bermain di sisi kiri. Di sisi lain, Manajer Arsenal Arsene Wenger menurunkan Aaron Ramsey yang berduet dengan Mohamed Elneny ketimbang menurunkan Francis Coquelin. Wenger pun menurunkan Alex Iwobi di belakang Giroud karena Mesut Oezil yang (diduga) cedera.

Kokohnya Fernandinho dan Fernando

Sepanjang musim ini, penampilan Fernandinho dan Fernando tidak bisa dibilang sesuai dengan apa yang diharapkan. Kehadiran mereka selalu tertutupi oleh bayang-bayang kemampuan Yaya Toure baik dalam bertahan maupun menyerang.

Ini yang membuat baik Fernando maupun Fernandinho seperti tak memiliki posisi yang jelas, apakah difungsikan sebagai gelandang bertahan atau gelandang serang.
Namun, dalam pertandingan semalam baik Fernando maupun Fernandinho menjalankan tugas dengan baik. Keduanya hampir selalu mampu menghentikan serangan Arsenal dari tengah, juga mampu memberi suplai untuk lini serang The Citizens.

Fernando diplot untuk memutus serangan Arsenal, sementara Fernandinho ditugaskan untuk mengatur aliran bola di lini tengah. Sepanjang pertandingan, Fernandinho mengirimkan 57 umpan atau yang terbanyak kedua setelah Nicolas Otamendi. Fernandinho pun melakukan tiga tekel dan sekali intercept. Jumlah tekel Fernando sama seperti Fernandinho, tapi jumlah intercept-nya lebih banyak dengan lima kali.

Dari grafis di atas, Fernandinho memiliki kecenderungan mengirimkan umpan ke kedua sisi. Sementara itu, satu umpannya berhasil menjadi assist bagi gol pertama City yang dicetak Aguero.

Hal ini tidak lepas dari pergerakan Fernandinho yang turut menyerang utamanya dari sisi kanan. Fernandinho yang berada di dalam kotak penalti berhasil menerima bola umpan Jesus Navas yang kemudian ia berikan kepada Aguero di depan kotak penalti yang mengonversinya menjadi gol.

Sulitnya Arsenal Menyerang Lewat Tengah, Arsenal tidak memfokuskan serangan ke satu sisi. Dari grafis di atas, serangan Arsenal terbilang merata. Salah satu kegagalan Arsenal adalah seringnya mereka melepaskan umpan-umpan panjang utamanya langsung ke area sepertiga akhir.
Sepanjang pertandingan Arsenal melepaskan 26 umpan panjang dan hanya enam yang menemui sasaran. Akurasi umpan Arsenal memang tidak terlalu buruk dengan 72%. Namun, sejumlah kegagalan umpan tersebut adalah umpan yang mestinya bisa menjadi awal dari serangan.

Dari grafis umpan di atas terlihat pada babak pertama Arsenal mengandalkan serangan dari kiri ke arah Danny Welbeck. Namun, setelah Welbeck diganti pada menit ke-22, Arsenal mulai menyerang dari tengah. Kehadiran Jack Wilshere membantu tugas Ramsey dan Elneny yang menyuplai bola ke lini serang. Jarak antara Ramsey dan Elneny dengan lini serang menjadi lebih dekat seiring dengan kehadiran Wilshere. Hal ini pun tak lepas dari kurang moncernya penampilan Iwobi yang diplot di belakang Giroud.

Namun, serangan Arsenal dari lini tengah kerap menemui jalan buntu. Fernando dan Fernandinho menjadi penghalang alur serangan Arsenal, dan menjadikannya sebagai serangan balik untuk The Citizens.

Arsenal Sulit Antisipasi Serangan Balik

City sebenarnya punya peluang emas untuk meraih hasil lebih baik. Misalnya lewat kaki Kelechi Iheanacho, usai gol penyama kedudukan.

Pemain berkebangsaan Nigeria tersebut sejatinya punya tiga opsi: menembak langsung, mengoper pada Navas, atau mengoper pada Aguero. Menembak langsung peluangnya kecil menjadi gol karena ada pemain Arsenal yang mengganggu dan menghalangi, sementara mengoper bisa lebih baik karena keduanya tak terjaga. Lalu apa yang terjadi? Iheanacho memilih melepaskan tembakan yang tentu tak berbuah gol karena melenceng kelewat jauh.

Momen seperti ini tentu mengejutkan buat pertahanan Arsenal. Hanya, peluang seperti yang didapatkan Iheanacho bukan terjadi sekali, tapi beberapa kali di mana Arsenal terlambat dalam transisi dari menyerang ke bertahan.

Hal ini juga menunjukkan buruknya akurasi tembakan tepat sasaran milik City. Dari 14 tendangan, hanya tiga yang mengarah ke gawang, satu mengenai tiang, dan dua berhasil terblok. Sisanya? Terbang tak terarah.

Di sisi lain, Arsenal kesulitan mendapatkan peluang. Namun, dari sedikitnya peluang yang didapatkan The Gunners lebih efektif. Dari lima tembakan, dua di antaranya mengarah ke gawang atau akurasinya 40%.

Cech Titik Lemah?
Pada proses gol pertama, semestinya tak ada yang salah dengan pertahanan Arsenal. Elneny menjaga Aguero. Gabriel mengawal Iheanaco, sementara Laurent Koscielny menutup ruang tembak Aguero. Penyerang Argentina tersebut lantas menembak ke sudut sempit yang tak mampu ditahan Cech.

Hal senada terlihat pada gol kedua. Sejatinya serangan City sebelum gol kedua tidak bisa dibilang membahayakan. Pasalnya, hanya ada De Bruyne, Aguero, dan Iheanacho di lini serang. Selain itu, bek Arsenal pun terbilang padat untuk menghalau dribble De Bruyne.
Di depan kotak penalti, De Bruyne mengalihkan arah dan lantas mengirim tembakan menyusur tanah, yang lagi-lagi menyasar sisi yang lebih dekat dengan Cech. Namun, Cech tak mampu menggapai bola yang membuat gawangnya kembali bergetar.

Tanpa mengesampingkan kekuatan tendangan De Bruyne dan Aguero, melihat dua proses gol di atas sulit agaknya untuk menyalahkan peran bek Arsenal dalam menahan serangan City. Terlebih dua gol City memiliki pola yang sama: ke arah yang dekat dengan Cech lewat tembakan mendatar! Dengan pola seperti ini, bisa jadi kalau dua tembakan tersebut memang merupakan bagian dari instruksi taktik Pellegrini. Apalagi dalam 14 laga terakhir, Arsenal kebobolan 19 gol atau 1,3 kali kebobolan per pertandingan.

Konsentrasi Pertahanan City

Gol pertama Arsenal yang dicetak Giroud tidak lepas dari sundulan backpass Bacary Sagna ke arah Joe Hart. Namun, bola kelewat tajam dan tak mampu ditangkap Hart yang menghasilkan tendangan sudut buat Arsenal.

Momen tersebut terjadi beberapa menit usai gol pertama City. Kondisi lini pertahanan City tidak fokus terlebih setelah gol tersebut, Arsenal mulai melakukan serangan.
Gol yang dicetak Giroud terjadi karena ia sama sekali tidak dikawal. Ini bukan cuma saat ia menyundul, tetapi juga saat melakukan akselerasi untuk melompat. Tidak ada bek City yang mengawal Giroud.

Awalnya Eliaquim Mangala sadar kalau Giroud tak terkawal. Namun, ia justru menyongsong bola dan meninggalkan Giroud. Bola yang melambung terlalu tinggi membuat Mangala gagal menyundul bola. Hasilnya, Giroud pun bisa melompat tanpa gangguan. Padahal, di pos Mangala melompat, sudah ada Fernandinho yang tengah mengawal Welbeck.
Sementara itu pada gol kedua, terlihat kalau para pemain City terlalu fokus pada pergerakan bola, sementara lini pertahanan mereka menjadi terbuka. Dari gambar di atas terlihat ada tiga pemain City yang mengawal Sanchez. Sementara itu, Mangala dan Otamendi terlalu bergeser ke sisi kanan. Hasilnya, ruang di depan kotak penalti menjadi kosong dan terekspos.

Mangala kesulitan menutup pergerakan Sanchez karena harus menutup pergerakan Giroud. Sementara Sagna berdiri terlalu jauh dari Sanchez karena memang bukan di situ posisinya.

Kesimpulan

Arsenal dan City tidak bermain dengan sempurna, terutama pada babak pertama. Dari sejumlah kesempatan seringkali ditemukan salah umpan.

Arsenal terlihat bermain menunggu dan melancarkan serangan balik. Namun, banyak dari proses tersebut gagal karena kesalahan umpan. Perubahan di kubu Arsenal terlihat saat Theo Walcott masuk. Ia bisa melakukan penetrasi dengan kecepatan di sisi kanan yang membuat Arsenal memiliki opsi lain dalam menyerang.

Sementara itu, City terlihat banyak menyiakan peluang terutama saat melakukan serangan balik. Hanya satu dari proses tersebut yang menghasilkan gol. Sisanya, bola tembakan City hanya tiga yang mengarah ke gawang.

Secara permainan, tentu ini bisa dibilang sebagai salah satu pertandingan terburuk Arsenal pada musim ini. Namun, mereka bisa memanfaatkan kelengahan para pemain City saat ditekan. Arsenal pun tidak kelewat banyak melakukan umpan silang dengan 13 umpan silang berbanding 25 umpan silang milik City. Pasalnya, umpan silang tanpa pemain yang akan menjadi target, biasanya tak lebih sebagai bentuk dari rasa frustasi.

Bagi City, pilihan mereka untuk berlama-lama dengan bola jelas bukan sesuatu yang tepat. Sepanjang pertandingan mereka melakukan 505 umpan, berbanding 303 umpan milik Arsenal. Namun, hal tersebut tak berarti banyak karena sejalan dengan jumlah mereka kehilangan bola sebanyak 34 kali, dan Arsenal mampu melancarkan 25 tekel dan 30 kali intercept.